Perlahan menghilang pulau keimanan yang mulai karam. Tatkala tabir kepalsuan merebak, mendera dan menghujam ke lubuk hati nurani. Kian lama arogansi syaithon dan iblis menyelinap ke tulang sulbi, menyeruak dan meluluh lantakkan benteng ketaqwaan dan keikhlasan diri.
Hidup bukanlah untuk mati, atau kehidupan bukan pula untuk terus menerus hidup, tetapi hidup untuk kembali menjadi hidup. Untuk capai kehidupan hakiki setelah didunia redup.
Wahai diri yang tidak mau peduli, kosmetika kebohongan dan gemerlap baju lalai menjadi perhiasan percantik diri, Indah tapi tak terasa berarti. Banyak yang terpana dan silau akanmu. Topeng-topeng wanita, kilauan harta dan pelangi durja merombak paradigma suci berkubang pekatnya lumpur dan bangkai kehidupan yang layu dan mati. Coba lihat disana,, seonggok raga tak berjiwa mengais-ngais kesempatan dalam kesempitan, keinginan sesaat yang menyesakkan, mencekik dan menampar hingga padamkan diri, apakah kita tidak berjalan dimuka bumi, seluruh alam sebagai guru, Al-Qur’an dan Al-Hadits sebagai pegangan dan pedoman, niscaya kita tak tersesat dari tujuan diadakan dimuka bumi.
Taukah kita yang menciptakan kesempurnaan alam ini? Dialah Allah swt, agar kita mengambil hikmah dan memberi nasihat karena tunduk dan takut hingga kita berafiliasi dengan Dien Islam secara kaffah