UKHUWAH DALAM PERJUANGAN PROFESIONAL
By : 41748 di Bumi Alloh
Terperangahlah kota Qadisiah menyaksikan pasukan Muhajirin dan Anshar menyeberangi sungai yang membatasi yang membatasi mereka dengan kamp pasukan Persia. Bangsa Arab yang tak kenal air ini menjadi begitu berani, saling bergandengan tangan, berangkulan membelah Eufrat yang deras…
Ada yang lebih membuat terperangah. Rombongan besar itu tiba tiba berhenti di tengah arus yang ganas dan semua membungkuk meraba raba ke dalam riak. “Kantong airku ! Kantong airku jatuh !”, seru salah satu anggota pasukan kaum muslimin yang kantong airnya jatuh. Hal ini membuat puluhan ribu tangan seketika mengaduk aduk eufrat untuk mencarinya…
Panglima Persia dan pasukannya tercengang menanti di seberang dengan pedang terhunus tercekat di tenggorokannya. Hanya sebuah kantong air semua pasukan mengaduk aduk sungai Eufrat? “lalu bagaimana kalau salah satu dari mereka terbunuh oleh kita?” serunya…
Ya, mereka tak pernah akan mengerti tentang ukhuwwah sebelum merasainya. Jika pedang menebas salah satu dari pasukan muslimin, yang kena pedang tak akan berteriak karena ia hanya merasakan cubitan yang mengantarnya menuju keridhaan Rabbnya. Yang justru akan berteriak adalah saudara seiman yang ada di sampingnya! “Aaaaah!”, melengking teriakannya, “……Saudaraku, engkau mendahuluiku ke surga! Engkau mendahuluiku ke surga…
Subhanallah, untaian ikatan persaudaraan begitu indah. Untaian persaudaraan yang dikelilingi oleh perhiasan keimanan dan ketaqwaan menggelorakan semangat fastabiqul khairot membangun jiwa yang kerdil menjadi berjiwa besar dengan mendahulukan kepentingan umat islam, mengubah paradigma jahily menjadi paradigma islami yang mendekatkan diri kepada Robb pencipta semesta alam dan akhirnya meraih kebahagiaan hakiki surgawi yang tak luput darinya kebahagian duniawi.
Ah begitu irinya diri ini ingin merasakan lautan persaudaraan yang bersemi. Persaudaraan karena Illahi yang menghantarkan kepada Rahmat yang menjadikan insan insan pilihan terselimuti sifat-sifat ihsan dalam merenda kehidupan bersosial.“sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yg berselisih) dan bertaqwalah kepada Alloh agar kamu mendapat rahmat (Al- hujarat 10)
Saudaraku, didunia ini kita tidak sendiri, sering kali kita tiada perduli rintihan duka, jeritan nestapa dan keluh kesah sahabat. Kita hanya tahu ketegaran mereka dalam menjalani kehidupan dan menggeluti ujian. Dalam petualangan dakwahpun demikian, sekelumit orang yang terlihat kokoh terus berjuang, sedangkan sebagian sekedar komentator bahkan ada yang yang sekedar penonton. Mereka muslim tapi berkarakter layaknya kaum yahudi dimasa nabi Musa dalam QS almaidah 20-24
Memang insan ini masih belum bisa memanfaatkan peluang amal dengan bumbu-bumbu keterbatasan, kita sering berkata “ ada banyak hal yang belum diketahui, ada wawasan yang terlewati, ada banyak kesibukan yang dijalani bahkan kesulitan komunikasi menjadi ‘budak alasan’, padahal Alloh menyediakan semuanya itu sebagai ladang tempat belajar beramal dan berjuang. Ladang untuk beramal yang kelak bermanfaat bagi penanamnya ketika panen tiba (akhirat kelak). Memang dalam menanam akan ada rintangan yag menghadang dari hama pengrusak, ilmu yang dangkal dan alam yang kurang bersahabat, tetapi bukan berarti dengan banyak rintangan kita hentikan penanaman yang kita perlukan adalah kesiapan dan kesigapan yang kelak melahirkan keberuntungan. Kesiapan untuk bekerja keras, bekerja cerdas dan pantang menyerah.
Saudaraku, begitu besar potensi manusia yang diberikan oleh Alloh SWT kepada manusia dari kekuatan fikiran sehingga wajar saja ada yang mengatakan fikiran adalah raksasa yang sedang tidur (Einstein saja hanya 4% yang dioptimalisasikan), kekuatan ruhiyah yang menjadikan manusia bermakna arif dan bijaksana hingga kekuatan jasmani untuk perubahan peradapan. Potensi yang memadai ini jika tidak dilejitkan akan menjadikan pemiliknya merugi kecuali orang yang beriman dan beramal sholeh dan saling nasihat menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Yah kita perlu mengukirkan amal kebajikan, karena iman tidak hanya sampai hati melainkan dibuktikan dengan diamalkan dan tiada kesempurnaan keimanan seseorang dalam beriman tanpa adanya amal.
Saudaraku berjuanglah menaklukkan diri dari kelalaian yang dapat menenggelamkan diri kepada kemaksiatan, seperti kata pepatah “ barang siapa tidak disibukkan oleh kebenaran, pastilah akan disibukkan oleh kebatilan” bukankah kunci untuk melakukan perbaikan social adalah dengan memperbaiki diri (AR Rhad 10) “Alloh tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka merubah keadaan pada diri mereka sendiri”
Saudaraku, mari kita bergerak seperti perkataan imam syafi’I (air menggenang itu tidak suci, ia menjadi suci apabila bergerak), begitu dalam ungkapan tersebut memang bergerak adalah suatu keniscayaan karena jiwa, detak dan gerakannya tidak pernah berhenti karena kita adalah makhluk, berhentinya dan istirahatnya adalah saat ruh meninggalkan badan Jika insan ini dibiarkan bergerak padahal keadaannya rusak maka pastilah akan merusak sekelilingnya tetapi apabila insan tersebut diatur oleh hukum yang syamil dan mutakkamil (islam) maka ia dapat bermanfaat bagi manusia.
Saudaraku, Ada beberapa hal perlu diperhatikan dalam bergerak menuju perbaikan
1. Niat karena Alloh karena sesungguhnya amal itu tergantung dari amalnya (hadits arbain 1)
2. Professional
Tanzim (pengorganisasian) menyuburkan prinsip takhtit (perencanaan) dan melunturkan kerja serampangan (afawiyah) dan spontanitas (irtijal)
Logika prioritas pintu gerbang tawazun
- Prioritas perkara pokok atas cabang
- Kualitas lebih diprioritaskan daripada kuantitas
- Memperbaiki diri sebelum perbaikan system
- Prioritas ilmu atas amal
- Prioritas perkara fardhu atas sunah
Terencana (takhtit) tahapan-tahapan gerakan dari visi gerakan dalam amal islam, keterpaduan (takamul) dan menghindari sektoralisasi (juz’iyah) hingga tercapainya perubahan islami yang dicita-citakan dan berdirinya Negara yang menerapkan syariat Alloh. Setelah itu baru memungkinkan adanya spesialisasi dalam satu aspek atau aspek lainnya yaitu system islam
3. Bersegeralah beramal “ dari abu hurairah Ra bahwa Rosulullah SAW berwasiat bersegeralah melakukan banyak amal sebelum datangnya aneka fitnah yang seperti potongan2 malam, dimana seorang laki2 beriman pada pagi hari, ia akan kafir pada sore hari, atau dikala petang ia beriman, ia berubah menjadi kafir pada pagi hari, ia menjual agamanya dengan kesenangan dunia (HR muslim, ahmad dan tirmidzi)
4. Menyatukan umat “ sesungguhnya umat ini adalah umat yang satu dan Aku adalah Robb kamu sekalian maka sembahlah Aku (Al anbiya 92) sebaliknya memecah belah dalam Q.s Ar.rum ayat 32-34
Saudaraku,begitu banyak kemungkaran disetiap lini kehidupan (Sosial, Ekonomi, politik dan budaya) yang akan terus bergulir bak bola salju yang akan terus bergulir membesar jika kita tiada membersihkannya atau mencegahnya. Dalam hadits arbain ke 34 ( “barang siapa melihat kemungkaran maka rubahlah dengan tangannya (kekuasaanya), jika tidak bisa rubahlah dengan lisannya jika tidak bisa maka dengan hatinya (mengingkari dengan hatinya) sesungguhnya yang demikian itu termasuk selemah-lemahnya iman”. Yang menjadi pertanyaan kepada diri kita adalah sejauh manakah diri kita dalam menyikapi kemungkaran, bersedihlah saudaraku jika hati kita saja tiada mengingkari kemungkaran karena hati adalah barometer selemahnya keimanan kita, apalagi jika larut dan turut dalam kemungkaran dengan sengaja. yah memang manusia tiada sempurna menapaki kehidupan yang penuh ujian dan cobaan, tapi alangkah baiknya diri jika setelah terseok jatuh kemudian bangkit secara bertanggung jawab melalui taubat dan beramal menutupi noda dosa yang tercecer.
Terakhir Saudaraku, begitu banyak kewajiban yang diemban bagi seorang muslim yang melebihi waktu yang ada, sehingga harapannya agar kita bersama-sama saling bahu membahu berfastabiqhul khairot dalam menjaga pengorganisasian yang teratur sehingga amal-amal yang terukirpun dapat dirasakan masyarakat banyak (As-Shaff 4 ) sesungguhnya Alloh menyukai kamu berperang dijalan Alloh (fisabilillah) dalam keadaan teratur seakan-akan seperti bangunan yang kokoh
Wallahu a’lam bishowab……………………...Astaghfirulloh hal adzim atas segala khilaf dalam penulisan